Kreativitas dalam Pembuatan Bentuk
dari Kertas Origami pada Anak
Usia 4-6 Tahun (TK)
Anggota :
Ayu Wijayanti Sumirat (11514896)
Muhammad Alverdo (17514074)
Tami Apriliani (1A514652)
Utiya Rizkha Inasha Ulya (1A514960)
Kelas 1PA07
Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
ATA 2014-2015
Kata Pengantar
Puji syukur kami hadiahkan atas rahmat dan berkah Tuhan Yang Maha
Kuasa. Yang mana dengan kemudahan dan karunia-Nya lah kami dapat
menyelesaikan tugas laporan observasi langsung ke TK kenanga, dan
berkatnya pula kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar.
Maksud pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
yang diwajibkan oleh Dosen Kreativitas dan Keberbakatan kepada kami.
Dalam menyelesaikan makalah ini, kami melakukan observasi dalam
pencarian data dan bekerja sama. Agar makalah ini dapat selesai tepat
pada waktunya. Kami menyadari bahwa penulisan makalah kami masih sangat
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik, saran dan masukan yang
membangun sangat diharapkan untuk menyempurnaanya kelak.
Kami selaku penyusun sadar akan ketidaksempurnaan dan kekurangan
dalam makalah ini baik dalam hal sistem penyusunan maupun hasil
observasinya. Oleh sebab itu kami sangat berharap atas kritik dan saran
yang membangun guna mengembangkan pengetahuan kita bersama dan penunjang
lebih baik lagi untuk laporan observasi selanjutnya.
Tim Penulis
Daftar Isi
Cover
Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………………..i
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………… 1
- Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………… 1
- Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………………. 2
- Tujuan Penulisan Makalah…………………………………………………………………………………… 2
BAB II DASAR TEORI………………………………………………………………………………………….. 3
- Pengertian Kreativitas…………………………………………………………………………………………. 3
- Ciri-ciri Kreativitas…………………………………………………………………………………………….. 4
- Faktor-faktor dalam Kreativitas……………………………………………………………………………. 5
- Pengertian Origami…………………………………………………………………………………………….. 10
- Manfaat Belajar Origami……………………………………………………………………………………… 11
BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………………………………………. 13
BAB IV HASIL PENELITIAN………………………………………………………………………………… 14
- Hasil Penelitian………………………………………………………………………………………………….. 14
- Lampiran Foto Kegiatan……………………………………………………………………………………… 16
BAB V PENUTUP…………………………………………………………………………………………………. 18
- ………………………………………………………………………………………………………. 18
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………… 19
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Origami (折り紙), dari ori yang berarti “lipat”, dan kami yang berarti
“kertas” merupakan seni tradisional melipat kertas yang berkembang
menjadi suatu bentuk kesenian yang modern. Origami adalah sebuah seni
lipat yang berasal dari Jepang. Bahan yang digunakan adalah kertas atau
kain yang biasanya berbentuk persegi. Sebuah hasil origami merupakan
suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus pada pandangan.
Secara umum untuk membuat origami kita bisa menggunakan kertas biasa
namun kebanyakan origami di Jepang menggunakan kertas khusus untuk
origami. Perbedaan antara kertas biasa dan kertas origami hanyalah dari
segi design dan warna saja yang sangat beragam sehingga membuat origami
menjadi semakin indah.
Origami pun menjadi populer dikalangan orang Jepang dan bahkan sampai
ke tanah air. Di Indonesia sendiri origami bukanlah hal yang baru lagi.
Hampir di setiap TK mengajarkan teknik melipat kertas kepada anak
didiknya. Dan origami ini menjadi salah satu pelajaran kreativitas yang
menyenangkan bagi anak-anak.
Kreativitas merupakan aspek yang penting bagi setiap anak,tidak
terkecuali bagi anak TK. Tinggi rendahnya kreativitas yang dimiliki anak
baik disekolah maupun dirumah akan dapat berpengaruh terhadap prestasi
belajarnya, kreativitas yang dimiliki anak masih harus dikembangkan lagi
dan difasilitasi dengan berbagai sarana dan prasarana. Salah satunya
yang dapat mengembangkan kreativitas anak adalah seni melipat kertas
(origami).
Kurangnya kreativitas anak khususnya dalam keterampilan seni melipat
kertas (origami) banyak dipengaruhi oleh faktor,kemungkinan bersumber
dari anak itu sendiri,sarana prasarana,lingkungan yang kurang
mendukung,kemungkinan bersumber dari guru sendiri yang kurang atau belum
profesional dalam menerapkan berbagai keterampilan dasar mengajar,baik
keterampilan menggunakan variasi gaya mengajar.
Dalam kesempatan ini, kami Mahasiswa/Mahasiswi fakultas Psikologi
melakukan observasi/pengamatan secara langsung TK Kenanga untuk
mengetahui seberapa banyak anak-anak TK yang mampu dan tidak mampu
dalam melipat kertas origami. Dilatar belakangi masalah tersebut juga
kami akhirnya memutuskan untuk membuat makalah ini
- Rumusan Masalah
- Bagaimana kreativitas anak TK dalam melipat kertas origami?
- Berapa banyak anak-anak yang mampu melipat Origami?
- Mengapa ada beberapa anak yang tidak dapat melipat Origami?
- Tujuan Penulisan Makalah
- Mengetahui sebab akibat mengapa ada anak yang tidak bisa melipat
Origami serta antusiasme anak-anak TK dalam melipat kertas Origami.
BAB II
DASAR TEORI
1.Pengertian Kreatifitas
Secara alamiah perkembangan anak berbeda-beda, baik dalam bakat,
minat, jasmani, kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan
sosialnya. Selain itu, setiap anak memiliki kemampuan tak terbatas dalam
belajar, untuk dapat berfikir kereatif dan produktif.
Dalam KBBI, kreatif didefenisikan sebagai kemampuan untuk mencipta
atau proses timbulnya ide baru. Pada intinya pengertian
kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang
baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, dalam bentuk ciri-ciri
aptitude maupun
non aptitude, dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, dan semuanya relatif berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
Sebenarnya, ada banyak pengertian kreativitas, misalnya ada yang
mengartikan kreativitas sebagai upaya melakukan aktivitas baru dan
mengagumkan. Di lain pihak, ada yang menganggap bahwa kreativitas adalah
menciptakan inovasi baru yang mencengangkan. Berikut ini adalah
beberapa pendapat para ahli tentang kreativitas.
- Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan
identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri
sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis)
- Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru yang menerapkannya dalam pemecahan masalah. (Conny R. Semiawan).
- Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri,
mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang
,kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan
organisme (Rogers).
- Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
- Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
- Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah,
memperlancar, mendo-rong, mengembangkan, memdidik, memecahkan masalah,
mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/
banyak.
- Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell)
Dari beberapa uraian definisi di atas dapat dikemukakan bahwa
kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan
sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam
bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru
maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu
relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu
yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan/
menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami
Munandar: 1992)
2. Ciri-ciri Kreativitas
Biasanya anak yang kreatif selalu ingin tahu, memiliki minat yang
luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja
kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka
lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) dari pada
anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka
amat berarti, penting dan disukai, mereka tidak terlalu menghiraukan
kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak takut untuk membuat
kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak
disetujui oleh orang lain.
Orang yang inovatif berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan,
atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan
membuat mereka tidak cepat putus asa dalam mencapai tujuan mereka.
Dalam kaitannya dengan kreativitas pada anak usia dini, Ihat Hatimah
seperti dikutip oleh Ahmad Susanto mengemukakan beberapa bentuk
kretivitas pada anak usia dini, yaitu :
- Gagasan/berpikir kreatif, yang meliputi :
- Berfikir luwes;
- Berfikir orisinal;
- Berpikir terperinci;
- Berpikir menghubungkan.
- Aspek sikap, yang meliputi :
- Rasa ingin tahu;
- Ketersediaan untuk menjawab;
- Keterbukaan;
- Percaya diri;
- Berani mengambil resiko.
3. Faktor-faktor dalam Kreativitas Anak
Setiap individu sebenarnya memiliki potensi untuk kreatif, dengan
berbagai macam bentuknya. Namun untuk lebih mengoptimalkan dan
mengembangkan kreativitas lebih lanjut, maka diperlukan peran
lingkungan untuk merangsang dan lebih mengembangkan kreativitas yang
sudah ada. Lingkungan (dalam hal ini orang tua dan guru di sekolah)
berperan penting untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi-potensi
kreatif pada anak. Namun sebaliknya tanpa disadari orang tua dan guru
juga dapat berperan sebagai penghambat dalam kreativitas anak.
Berikut ini adalah faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan kreativitas anak.
- Faktor Pendukung Kreativitas
Munandar (2004) memaparkan bahwa dari berbagai penelitian diperoleh
hasil bahwa sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak antara lain:
- Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkannya.
- Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal.
- Membiarkan anak mengambil keputusan sendiri.
- Mendorong kemelitan anak untuk menjajaki dan mempertanyakan banyak hal.
- Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicoba dilakukan dan apa yang dihasilkan.
- Menunjang dan mendorong kegiatan anak.
- Menikmati keberadaannya bersama anak.
- Memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak.
- Mendorong kemandirian anak dalam bekerja.
Melatih hubungan kerja sama yang baik dengan anak. Bila hasil
penelitian lapangan digabungkan dengan penelitian laboratorium mengenai
kreativitas dan dengan teori-teori psikologis maka diperoleh petunjuk
bagaimana sikap orang tua secara langsung mempengaruhi kreativitas anak
mereka. Beberapa faktor yang menentukan tersebut antara lain:
Orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak, tidak otoriter,
tidak selalu mau mengawasi anak, tidak terlalu membatasi kegiatan anak,
dan tidak terlalu cemas mengenai anak mereka cenderung mempunyai anak
yang kreatif.
Orang tua yang menghormati anak sebagai individu, percaya akan
kemampuan mereka, dan menghargai keunikan anak biasanya memiliki anak
yang kreatif. Anak-anak ini secara alamiah mengembangkan kepercayaan
diri untuk berani melakukan sesuatu yang orisinal.
- Kedekatan Emosional yang Sedang.
Kreativitas anak dapat terhambat oleh suasana emosional yang
mencerminkan rasa permusuhan atau penolakan namun keterikatan emosional
yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas. Anak perlu
merasa bahwa ia diterima dan disayangi tetapi seyogianya tidak menjadi
terlalu tergantung kepada orangtua.
- Prestasi, Bukan Angka.
Orang tua anak kreatif mendorong anak untuk berusaha dan menghasilkan
karya yang baik namun tidak terlalu menekankan untuk mencapai angka
atau peringkat tertinggi.
- Orang tua Aktif dan Mandiri.
Bagaimana sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena
mereka menjadi model utama bagi anak. Orang tua anak yang kreatif merasa
aman dan yakin tentang diri sendiri, tidak memperdulikan status sosial,
dan tidak terlalu terpengaruh oleh tuntutan sosial. Mereka juga amat
kompeten dan mempunyai minat, baik di dalam maupun di luar rumah.
- Menghargai Kreativitas.
Anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.
Torrance mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di
kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu:
- Menghormati pertanyaan yang tidak biasa;
- Menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa;
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri;
- Memberi penghargaan kepada siswa;
- Meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.
Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa kreativitas anak akan
berkembang jika orang tua dan guru selalu bersikap otoritatif
(demokratik), yaitu mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat
anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Jangan
memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya.
Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua/guru paling benar,
atau melecehkan pendapat anak. Selain itu orang tua dan guru harus
mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai
usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang
telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah
satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.
Untuk mengembangkan kreativitas anak, orang tua dan guru harus
merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang
berbagai benda atau kejadian di sekelilingnya, yang mereka dengar,
lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang
tua dan guru janganlah menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin
tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Orang tua
dan guru harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan
pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri.
Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau
warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis
atau belum pernah ada. Jangan mengancam atau menghukum anak kalau
pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua/guru. Tanyakan
mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk
mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir,
jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan
caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk
mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.
- Faktor Penghambat Kreativitas
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita dapati perlakuan dan tindakan
anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi
kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orang tua.
Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang
terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan
eksperimen, dan sebagainya. Penyikapan orang tua seperti itu berarti
merupakan salah satu contoh dari sekian banyak faktor yang menghambat
kreativitas seorang anak.
Amabile (Munandar, 2004) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu:
- Evaluasi,
- Hadiah,
- Persaingan/kompetisi antara anak,
- Lingkungan yang membatasi.
Sementara itu menurut Torrance (2001) yang dapat mematikan kreativitas diantaranya:
- Usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi,
- Pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak,
- Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual,
- Terlalu banyak melarang,
- Takut dan malu,
- Penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu,
- Memberikan kritik yang bersifat destruktif.
Adapun sikap orang tua yang tidak menunjang pengembangan kreativitas anak (Munandar, 2004) adalah:
- Mengatakan kepada anak bahwa ia dihukum jika berbuat salah.
- Tidak membolehkan anak menjadi marah terhadap orang tua.
- Tidak membolehkan anak mempertanyakan keputusan orang tua.
- Tidak membolehkan anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak.
- Anak tidak boleh berisik.
- Orang tua ketat mengawasi kegiatan anak.
- Orang tua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas.
- Orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak.
- Orang tua tidak sabar dengan anak.
- Orang tua dan anak adu kekuasaan.
- Orang tua menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.
Adapun bentuk-bentuk peran lingkungan dalam membentuk kreativitas individu menurut Mayang Sari (2009) adalah:
- Menghargai pendapat anak dan mendorong untuk mengungkapkannya.
- Memberikan waktu kepada anak untuk berfikir, merenung dan berhayal.
- Memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri.
- Dengan anak mengambil keputusannya sendiri, maka anak akan bertanggung jawab untuk mengambil keputusannya sendiri.
- Mendorong keingintahuan anak untuk mengetahui banyak hal.
- Orang tua atau guru menfasilitasi keingintahuan anak dengan memberikan informasi yang layak.
- Bisa dilakukan dengan memberikan buku-buku untuk dibacakan pada
anak, atau dengan mengajak anak untuk mengunjungi objek yang ingin
diketahuinya.
- Meyakinkan anak bahwa orang tua atau guru menghargai apa yang ingin
dicoba lakukan anak dan hasil akhirnya. Ini bisa dilakukan dengan
memberikan anak kesempatan untuk melakukan eksperimennya dari setiap
pengetahuannya.
- Menunjang dan mendorong kegiatan kreatif anak. Artinya orang tua
atau guru memberikan fasilitas yang mendukung, membimbing, anak dalam
eksperimentasinya, atau mengasuh bakat anak dengan dengan berbagai
kegiatan positif, misalnya lomba, kursus, atau pelatihan.
- Menikmati keberadaanya bersama anak.
- Orang tua atau guru senang bersama anak dan mampu menjalin komunikasi secara terbuka, hangat dan empatis terhadap anak.
- Memberi pujian yang sungguh-sungguh dan tepat sasaran pada anak.
Pujian harus diberikan ketika anak berhasil melakukan proses kreatifnya.
Pujian hendaknya diberikan tidak berdasarkan hasil tetapi lebih pada
proses. Maksudnya orang tua atau guru harus memuji kerja keras,
ketekunan, dan semangat anak dalam proses kreatifnya, walaupun hasilnya
belum begitu memuaskan.
- Mendorong kemandirian anak dalam bekerja, orang tua atau guru hendaknya jangan terlalu ikut campur dan terlalu mengarahkan anak.
- Biarkan anak mengembangkan dan menerapkan ide-idenya tersebut.
- Anak didorong untuk menemukan solusi pada setiap permasalahan yang
dihadapinya. Hal ini akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab,
mandiri terhadap kehidupannya.
- Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan anak, artinya orang
tua atau guru mau membantu anak ketika anak mengalami sebuah kesulitan.
Dalam hal ini bukan berarti membantu secara penuh terhadap setiap
permasalahan yang dihadapi anak, namun disini orang tua atau guru hanya
boleh mengarahkan dan tetap mendukung setiap keputusan yang diambil oleh
anak.
4. Pengertian Origami
Origami (折り紙), dari ori yang berarti “lipat”, dan kami yang berarti
“kertas” merupakan seni tradisional melipat kertas yang berkembang
menjadi suatu bentuk kesenian yang modern. Origami adalah sebuah seni
lipat yang berasal dari Jepang. Bahan yang digunakan adalah kertas atau
kain yang biasanya berbentuk persegi. Sebuah hasil origami merupakan
suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus pada pandangan.
Origami merupakan satu kesenian melipat kertas yang dipercayai
bermula semenjak kertas mula diperkenalkan pada abad pertama di Tiongkok
pada tahun 105 oleh seorang Tiongkok dikasi yang bernama Ts’ai Lun.
Pembuatan kertas dari potongan kecil tumbuhan dan kain berkualitas
rendah meningkatkan produksi kertas. Contoh-contoh awal origami yang
berasal daripada Republik Rakyat Tiongkok adalah tongkang Tiongkok dan
kotak.
Pada abad ke-6, cara pembuatan kertas kemudian dibawa ke Spanyol oleh
orang-orang Arab. Pada tahun 610 di masa pemerintahan kaisar wanita
Suiko (zaman Asuka), seorang biksu Buddha bernama Donchō (Dokyo) yang
berasal dari Goguryeo (semenanjung Korea) datang ke Jepang
memperkenalkan cara pembuatan kertas dan tinta. Kemudian seni ini
berkembang mula-mula pada zaman Muromachi (1333-1568) dan kemudian pada
zaman Edo (1603–1868). Karena harganya yang sangat mahal pada masa itu,
penggunaannya terbatas hanya pada kegiatan-kegiatan seremonial seperti
untuk Noshi.
Di Jepang, Origami dipercaya telah ada sejak Zaman Heian (741-1191)
di kalangan kaum sami Shinto sebagai penutup botol sake (arak beras)
saat upacara penyembahan, wanita dan kanak-kanak. Pada masa itu origami
masih dikenal dengan istilah orikata, orisui ataupun orimono.
Dalam perkembangannya origami telah menjadi begitu identik dengan
budaya Jepang, yang diwariskan secara turun-temurun dari masa ke masa.
Origami terutama berkembang dengan menggunakan kertas asli Jepang yang
disebut Washi. Saat ini origami telah menjadi sesuatu yang tak
terpisahkan dari budaya orang Jepang. Terutama dalam dalam upacara adat
keugamaan Shinto yang tetap dipertahankan hingga sekarang.
Dalam tradisi shinto, kertas segi empat dipotong dan dilipat menjadi
lambang simbolik Dewata dan digantung di Kotai Jingu (Kuil Agung
Imperial) di Ise sebagai sembahan. Pada upacara perkawinan Shinto,
kertas membentuk rama-rama jantan (o-cho) dan rama rama betina (me-cho)
menggunakan asas bom air “water bom”, membalut botol sake (arak beras)
sebagai lambang pengantin lelaki dan perempuan. Selain itu Origami juga
digunakan untuk upacara keagamaan yang lain. Pada mulaannya Origami
hanya diajarkan secara lisan. Panduan tertulis membuat origami dikenal
ada dalam buku Senbazuru Orikata (Bagaimana Melipat Seribu Burung
Jenjang/Orizuru) pada 1797. Ketika itu origami masih dikenali sebagai
“Orikata”.
Pada tahun 1880 seni melipat kertas mulai dikenal orang-orang dengan
nama “Origami”. Kata itu berasal dari bahasa Jepang oru (melipat) dan
kami (kertas). Kata origami kemudian mulai menggantikan istilah orikata,
orisui ataupun orimono. Pada zaman Showa (1926-1989) origami kurang
diminati dan hanya noshi yang masih populer digunakan untuk pertukaran
hadiah antara samurai.
Pada zaman Edo (1600-1868) produksi kertas yang berlimpah menjadikan
kertas mudah diperoleh. Ini menjadikan origami berkembang lebih pesat.
Pada akhir zaman Edo hampir 70 bentuk dihasilkan termasuk burung jenjang
(Orizuru), katak, kapal dan balon yang masih tetap dikenal hingga
sekarang. Pada era Genroku (1688-1704), corak kain origami burung
jenjang (Orizuru), dan corak pelbagai bot menjadi populer dan sering
dibuat dalam corak kain Ukiyoe. Ini memperlapang jalan origami untuk
berkembang lebih luas pada masa sekarang.
Pada zaman Meiji (1868-1912), origami digunakan sebagai alat mengajar
di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Itu semua berkat pengaruh dari
ahli pendidikan Friedrich Wilhelm August Fröbel (1782-1852). Beliau
adalah seorang pendidik Jerman pada abad ke-19. Beliau menggunakan
origami tradisional eropa untuk menghasilkan bentuk geometrik. Konsep
ini kemudian dipakai secara meluas di Taman Kanak-kanak di Jepang.
Di Indonesia sendiri origami bisa dikatakan memiliki ruang khusus
bagi penggemarnya. Sejak di Play Group hingga taman kanak-kanak (TK),
pelajaran keterampilan melipat kertas sudah diajarkan, mulai dari
melipat kertas menjadi kipas, bunga, sampai hewan. Tapi beranjak dewasa,
seni keterampilan itu tidak lagi dipelajari di sekolah, lambat laun
orang mulai melupakan seni lipat ini. Namun diluaran, seni melipat
kertas justru berkembang pesat, bahkan menjadi nilai tersendiri yang
bernilai seni.
5. Manfaat Belajar Origami
Manfaat Origami bagi perkembangan anak kecil dan dewasa. Origami
biasanya hanya diajarkan di TK padahal manfaatnya juga masih bisa
didapat oleh anak SD dan juga orang dewasa. Kegiatan Origami dengan
kedua tangan membuat otak kanan dan otak kiri berinteraksi. Hal ini
dapat meningkatkan kecerdasan verbal dan non-verbal. Untuk anak-anak
yang lebih dewasa, kegiatan origami dapat meningkatkan imajinasi dan
figurative thinking (Kemampuan mewujudkan impian jadi kenyataan).
Origami juga sangat bermanfaat bagi anak penderita ADHD (Attention
Defisit Hyperactivity Disorder) dan anak-anak yang memiliki gangguan
emosional karena origami menantang pikiran untuk membuat dan mengingat
urutan. Sehingga origami juga membantu anak-anak untuk belajar fokus.
Berikut ini manfaat-manfaat lainnya yang dapat diperoleh dari belajar
origami, antara lain:
- Melatih motorik halus pada anak sekaligus sebagai sarana bermain yang aman, murah, menyenangkan dan kaya manfaat.
- Lewat origami anak belajar membuat mainannya sendiri, sehingga
menciptakan kepuasan dibanding dengan mainan yang sudah jadi dan dibeli
di toko mainan.
- Membentuk sesuatu dari origami perlu melewati tahapan dan proses
tahapan ini tak pelak mengajari anak untuk tekun, sabar serta disiplin
untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan.
- Lewat origami anak juga diajarkan untuk menciptakan sesuatu,
berkarya dan membentuk model sehingga membantu anak memperluas ladang
imajinasi mereka dengan bentukan origami yang dihasilkan.
- Apa yang dirasakan anak-anak ketika berhasil menciptakan sesuatu
dari tangan mungil mereka? Kebanggaan dan kepuasan sudah pasti. Terlebih
lagi anak belajar menghargai dan mengapresiasi karya lewat origami.
- Belajar membaca diagram/gambar, berpikir matematis serta
perbandingan (proporsi) lewat bentuk-bentuk yang dibuat melalui origami
adalah salah satu keuntungan lain dari mempelajari origami.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan adalah dengan menggunakan metode penelitian
kualitatif dan metode penelitian wawancara. Kami melakukan metode
penelitian kualitatif dengan cara mengamati 30 orang anak yang berada
di TK Kenanga. Kami melakukan penelitian kepada para murid di TK
Kenanga, ada berapa anak yang dapat melipat origami tanpa bantuan orang
dewasa dan yang masih harus dengan arahan atau bantuan orang dewasa,
mulai dari bentuk yang sederhana sampai yang sulit, contohnya seperti:
kupu-kupu dan ikan. Kemudian kami melakukan metode penelitian wawancara
dengan mewawancari guru dari masing-masing kelas apakah anak-anak
didiknya mampu membuat bentuk hewan dari kertas origami dan apakah
murid-murid tersebut memiliki kendala dalam membuat bentuk dari kertas
origami tersebut.
Kami mengunjungi kelas A dan B. Di kelas A berisi 15 murid. Kami
meminta para siswa dan siswi untuk melipat origami menjadi bentuk ikan
dalam waktu 15 menit. Hasilnya adalah semua murid berhasil
menyelesaikan, tetapi sebagian murid mengalami kesulitan ketika melipat
ekor ikan. Hasilnya pun masih belum sempurna, saat melipat murid masih
dibantu oleh guru dan kami. Murid dikelas A belum bisa melipat dengan
sendirinya, mereka masih harus dibimbing oleh orang dewasa.
Setelah mengunjungi kelas A kami beralih ke kelas B. Di kelas B
berisi 15 murid. Berbeda dengan kelas A, dikelas B kami meminta para
murid melipat kertas origami menjadi bentuk kupu-kupu. Kami mencontohkan
cara membuat kupu-kupu memakai kertas origami di depan kelas, kami
mencontohkannya hanya sekali. Sesudah itu sama dengan cara sebelumnya
kami memberikan 15 menit untuk membuat kupu-kupu dari kertas origami.
Hasil dari membuat dari kertas origami tersebut hanya 10 murid yang bisa
membuat kupu-kupu dari kertas origami. 5 murid yang tidak berhasil
menyelesaikan kupu-kupu dalam waktu 15 menit mengalami kesulitan,
kesulitannya terletak saat murid membuka lipatan badan kupu-kupu, dan
melipat bagian sayapnya. Di kelas B masih ada murid yang harus dibimbing
tetapi ada juga murid yang bisa melipat sendiri.
BAB IV
Hasil Penelitian
- Hasil Penelitian
Setelah dilakukannya penelitian dengan melakukan percobaan penggunaan
kertas origami pada murid Taman Kanak-kanak Kenanga yang terbagi
menjadi dua kelas, yaitu kelas A dan B di dapatkan hasil sebagai berikut
:
- Dinyatakan bahwa pada anak-anak kelas A cenderung kurang memahami
dalam pembuatan bentuk-bentuk dari kertas origami. Hanya sebagian kecil
yang dapat merespon cepat apa yang di instruksikan oleh guru.
Dikarenakan adanya penggunaan dominan antara tangan kanan atau kiri.
Pada sebagian anak yang menggunakan otak kiri mereka, biasanya tangan
sebelah kanan yang lebih dominan dalam membuat/melakukan sesuatu.
Sedangkan pada anak yang otaknya berfungsi secara simetris, menandakan
bagian otak kanan lebih dominan, membuat bagian tangan kirinya lebih
terampil. Sehingga Mereka masih banyak membutuhkan arahan dalam setiap
langkah-langkah pembuatan bentuk ikan dari kertas origami.
- Kesulitan dalam pembuatan bentuk menggunakan kertas origami pada
anak-anak kelas A, yaitu dalam pembuatan bentuk ikan dari kertas origami
membutuhkan waktu yang lama. Mereka membutuhkan waktu lebih dari 2
menit dalam setiap perubahan bentuk. Hal ini dikarenakan, selama masa
perkembangan anak usia dini, anak meningkat dalam hal perhatian dan
kecepatan serta efisiensi pengolahan informasi, mereka mulai membentuk
memori jangka panjang. Tetap saja, anak kecil tidak bisa mengingat
sebaik mereka yang lebih tua. Untuk satu hal, anak kecil cenderung fokus
pada detail-detail dan mudah juga untuk melupakan hal tersebut. Kecuali
mereka mengulanginya beberapa kali.
- Pada anak-anak kelas A, cenderung lebih banyak berbicara, mengobrol
dengan teman-temannya, sibuk dengan kegiatannya sendiri atau
berlari-larian di dalam ruang kelas. Hal itu dikarenakan anak kelas A
masih memiliki egosentrisme yang tinggi, mereka berfikiran bahwa dunia
berpusat pada mereka, yang menyebabkan konsentrasi anak menjadi terbagi
atau tidak fokus pada arahan guru sehingga lebih memilih hal yang
menurut mereka lebih menarikdan menyebabkan konsentrasi anak menjadi
terbagi atau tidak fokus pada arahan guru. Sehingga, peran guru dalam
mengarahkan, membimbing, serta memotivasi anak-anak tersebut sangat
penting. Dengan begitu, guru dapat mengidentifikasi kreativitas dan
keberbakatan anak-anak tersebut, selain orang tua dan juga anak-anak
tersebut dapat menyadari akan keberbakatan dan minat yang mereka miliki
sehingga akan terarah.
- Dinyatakan bahwa pada anak-anak kelas B cenderung lebih cepat
merespon apa yang diarahkan oleh gurunya. Dalam proses pembuatan
bentuk-bentuk menggunakan kertas origami, mereka tidak terlalu mengalami
kesulitan yang signifikan. Hanya sebagian kecil diantaranya yang
mengalami kesulitan. Di karenakan, potensi atau kemampuan berfikir atau
berimajinasi pada anak-anak kelas B sudah di atas rata-rata. Bisa
dikatakan mereka jauh lebih mampu merespon cepat dibanding anak-anak
kelas A. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka juga masih memerlukan
arahan dalam setiap langkah-langkah pembuatan bentuk dengan menggunakan
kertas origami, khususnya bentuk kupu-kupu. Karena semakin sering mereka
diberikan latihan atau diajarkan lebih banyak bentuk-bentuk, tingkat
kreativitas serta bakat mereka bisa saja tersalurkan melalui media
tersebut.
- Kesulitan dalam pembuatan bentuk menggunakan kertas origami pada
anak-anak kelas B, yaitu dalam pembuatan bentuk kupu-kupu dari kertas
origami membutuhkan waktu yang lumayan lama. Mereka membutuhkan waktu
lebih dari setengah menit dalam setiap perubahan bentuk. Hal ini
dikarenakan, kemampuan setiap anak berbeda yang satu dengan yang
lainnya. Daya tangkap mereka cenderung masih belum bisa cepat memahami
hanya dalam satu kali dicontohkan, harus diulang-ulang dan dilakukan
pada pembelajaran selanjutnya. Lalu, karena tingkat kesulitan dalam
pembuatan bentuk kupu-kupu dengan menggunakan kertas origami cukup
tinggi. Namun, sebagian besar dari anak-anak tersebut bisa menyelasaikan
dengan tepat dan rapih.
- Pada anak- anak kelas B, mereka lebih cepat menangkap informasi,
lebih terampil, lebih kreatif dibanding anak-anak dari kelas A. Dalam
proses belajar anak-anak kelas B jauh lebih tenang dan mereka bisa
berkonsetrasi dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Dilihat dari hasil
bentuk kupu-kupu yang mereka buat, serta proses pewarnaan pada buku
gambar menunjukkan bahwa mereka jauh lebih memiliki kreativitas yang
lebih. Dengan begitu, guru dapat mengidentifikasi kreativitas dan
keberbakatan anak-anak tersebut, selain orang tua dan juga anak-anak
tersebut dapat menyadari akan keberbakatan dan minat yang mereka miliki
sehingga akan lebih terarah.
Berikut hasil penelitian pembuatan bentuk dengan menggunakan kertas origami pada kelas A dan kelas B dalam bentuk diagram :
- Lampiran Foto Kegiatan
(Kegiatan dengan siswa-siswi dari kelas A)
(Kegiatan dengan siswa-siswi dari kelas B)
(Salah satu murid dari kelas A) (Salah satu murid dari kelas B)
BAB V
Penutup
- Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan peneliti tentang pemanfaatan kertas origami sebagai media
pembelajaran dalam mengembangkan kreativitas anak usia 5-6 tahun di TK
Kenanga, maka dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa pemanfaatan
kertas origami sebagai pembelajaran dalam pengembangan kreativitas anak
TK Kenanga dari segi perencanaan dan pelaksanaan sudah sangat baik
tetapi perkembangan kreativitas anak masih belum muncul, hal ini
terlihat dari anak belum bisa mengembangkan dari contoh yang diberikan
guru pada saat kegiatan melipat dan anak lebih terfokus pada contoh yang
diberikan guru.
Setiap individu sebenarnya memiliki potensi untuk kreatif, dengan
berbagai macam bentuknya. Namun untuk lebih mengoptimalkan dan
mengembangkan kreativitas lebih lanjut, maka diperlukan peran
lingkungan untuk merangsang dan lebih mengembangkan kreativitas yang
sudah ada. Lingkungan (dalam hal ini orang tua dan guru di sekolah)
berperan penting untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi-potensi
kreatif pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
Munandar, Utami. (1992).
Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia Widyasarana Indonesia.
Pamadi, Hadjar & Sukardi, Evan. (2009).
Seni Keterampilan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Pipit .(2010).
Seni Melipat Memacu Kreativitas Otak. Jakarta.
http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-kreativitas-menurut-para-ahli.html
http://ramlimpd.blogspot.com/2010/10/faktor-pendukung-dan-penghambat.html